Senin, 30 Juni 2014

bahan ajar non-cetak



BAHAN AJAR NON-CETAK
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah:
“PENGEMBANGAN BAHAN AJAR”
Semester II / Tahun 2014
Dosen Pengampu : Tri Sukitman, M.Pd



 













Disusun oleh:

Anis Fadhilah
13862061A000106




KELAS II-C
PROGRAM STUDI PGSD


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
Jl. Trunojoyo Gedungan Sumenep
TAHUN AKADEMIK 2013/2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada waktunya yang berjudul “Bahan Ajar Non-Cetak“.
Makalah ini disusun dengan tujuan memenuhi tugas kelompok mata kuliah  “Pengembangan Bahan Ajar”.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi yang jauh dari kesempurnaan, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.


Sumenep, April 2014


Penulis













DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................
i
DAFTAR ISI ...................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN  ...............................................................................
1
A.     Latar Belakang.................................................................................
1
B.       Rumusan Masalah.............................................................................
1
C.       Tujuan Masalah ................................................................................
1
BAB 2   PEMBAHASAN ................................................................................
2
A.      Pengertian Bahan Ajar Non-Cetak ..................................................
2
B.       Kelebihan dan Kekurangan Bahan Ajar Non-Cetak ........................
2
C.       Macam-macam Bahan Ajar Non-cetak ............................................
2
1.         Bahan Ajar Dengar (Audio) ......................................................
2
2.         Bahan Ajar Pandang Dengar (Audio Visual) ............................
  3
3.         Bahan Ajar Multimedia Interaktif (Interactive Teaching Material) ...................................................................................
  3
BAB 3   PENUTUP .........................................................................................
 6
       3.1   Kesimpulan ............................................................................
6
       3.2   Saran ......................................................................................
6
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................
7












BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran yang dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran. Fungsi media pendidikan dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya sekedar alat peraga bagi guru, melainkan pembawa pesan-pesan informasi dan pesan-pesan pembelajaran yang dibutuhkan peserta didik.
Seiring kemajuan zaman, pendidikan dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan situasi dan kondisi pemakainya. Penyampaian pembelajaran secara verbalistis dinilai kurang efektif dalam menangani proses pembelajaran. Sehingga dengan memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang maka siswa dapat menikmati pembelajaran dengan lebih dinamis dan menyenangkan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari bahan ajar non-cetak ?
2.      Apa saja kelebihan dan kekurangan dari bahan ajar non-cetak ?
3.      Apa saja macam-macam bahan ajar non-cetak ?

C.    Tujuan
  1. Untuk mengetahui pengertian dari bahan ajar non-cetak.
  2. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari bahan ajar non-cetak.
  3. Untuk mengetahui macam-macam bahan ajar non-cetak.







BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Bahan Ajar Non-Cetak
Bahan Ajar (teaching material) adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Dikmenjur mendefinisikan bahan ajar adalah Seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Jenis-jenis bahan ajar diantaranya ialah bahan ajar cetak dan bahan ajar non-cetak.
Bahan ajar non-cetak adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang dituangkan dalam teknologi non-cetak.

B.       Kelebihan dan Kekurangan Bahan Ajar Non-Cetak
Kelebihan bahan ajar non-cetak secara umum adalah : 
1.    Dapat menampilkan kombinasi antara gambar dengan gerakan.
2.    Dapat menggabungkan semua unsur media seperti teks, video, animasi, image, grafik, sound menjadi satu kesatuan penyajian.
3.    Memanfaatkan keunggulan komputer (diigital media ataupun teknologi jaringan atau computer network).
4.    Memanfaatkan teknologi multimedia, sehingga suasana pembelajaran menjadi menarik, tidak membosankan dan pada akhirnya memotivasi siswa untuk belajar mandiri.
5.    Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan dan dimana saja bila yang bersangkutan memerlukannya.
6.    Memanfaatkan pertukaran data (Information sharing) yang secara interaktif dapat dilihat setiap saaat di komputer.
Kekurangan bahan ajar non-cetak secara umum adalah
1.    Membutuhkan alat yang lengkap untuk menggunakannya.
2.    Membutuhkan biaya yang relatif mahal untuk pengadaaan alat bahan ajar non-cetak.
3.    Penggunanya harus mempunyai skill yang sesuai dengan bahan ajar yang digunakan.
4.    Adanya virus yang akan membuat file hilang.

C.      Macam-Macam Bahan Ajar Non-Cetak
1.      Bahan Ajar Dengar (Audio)
Audio adalah sesuatu yang berkaitan dengan indra pendengar, dimana pesan yang disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif, baik verbal (kedalam kata-kata atau bahasa lisan) maupun non verbal (musik, instrumen, dsb). Program audio dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran individual, berkelompok, maupun massal. Tetapi pembelajaran yang menggunakan bahan ajar dengar akan kurang efektif jika didalam sekolah tersebut dihadapkan dengan peserta didik yang mengalami gangguan pada pendengarannya. Karena peserta didik yang mengalami gangguan tersebut akan sangat merasa kesulitan dalam mengikuti pelajaran dengan cara mendengar dan memahami. Beda halnya dengan peserta didik yang normal atau tidak mengalami gangguan dalam pendengarannya, maka peserta didik tersebut bisa mengikuti pelajaran dengan mudah khususnya ketika guru menggunakan bahan ajar dengar.
Dalam pembelajaran individual misalnya dimanfaatkan pada mata pelajaran Bahasa Inggris dimana sekarang banyak dijual program belajar bahasa secara mandiri melalui program audio (yang umumnya dilengkapi dengan bahan cetak seperti buku). Penggunaan program audio untuk pembelajaran individual sangat ideal karena pengguna atau siswa dapat mengatur kecepatan belajarnya sendiri. Seperti halnya jika kita mendengarakan lagu dari suatu kaset, siswa dapat memutar kasetnya kapan saja, serta dapat mengulang-ulang (rewind) atau mempercepat (fast forward) pemutaran kaset sesuai dengan kebutuhannya. Adapun untuk pembelajaran massal dan berkelompok, manfaat audio juga sangat signifikan. Sebagai contoh misalnya digunakan dalam ceramah massal melalui radio, ataupun pembelajaran yang dikontrol dari pusat kelas.
Karakteristik audio adalah memiliki unsur yang dapat menghasilkan bunyi atau suara. Adapun jenis-jenis audio adalah :
a.         Pita audio (rol atau kaset)
b.         Piringan audio
c.         Radio (rekaman siaran)
Dalam pembelajaran apapun, program audio memiliki tiga peran penting, antara lain :
a.         Untuk memberi ilustrasi yang lebih “hidup” sehingga dapat membuat pembelajaran menjadi lebih jelas dan tidak membosankan.
b.         Untuk menjadi pemicu belajar dengan teknik tertentu. Misalnya untuk pengajaran cara berdebat dengan memperdengarkan rekaman dua orang sedang berdebat, untuk pengajaran cara melakukan kritik dengan memperdengarkan rekaman suatu diskusi yang bersifat kritis, dan sebagainya.
c.         Sebagai alat pembelajaran utama, yaitu memperdengarkan uraian/ceramah tentang keseluruhan materi yang diajarkan. Misalnya pada pengajaran massal yang diberikan melalui siaran radio ataupun melalui rekaman program audio yang disebarkan secara luas.
Adapun langkah-langkah umum dalam penggunaan media audio sebagai media pembelajaran adalah sebagai berikut :
a.       Langkah persiapan. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :
1)   Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.
2)   Kesesuaian dengan materi yang akan disampaikan.
3)   Situasi dan kondisi siswa.
b.      Langkah Penerimaan
Dalam langkah ini, diharapkan guru dan siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan mendengarkan secara seksama. Guru dapat mencatat hal-hal penting, kata-kata baru dan kata-kata sulit yang nantinya berguna sebagai refleksi di akhir pelajaran. Bagi siswa juga dapat melakukan kegiatan seperti membuat pertanyaan, ringkasan materi, dsb.
c.       Kegiatan lanjutan
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan melakukan refleksi dan tanya jawab antar guru dengan siswa. Sekaligus bisa dilakukan penugasan terhadap siswa berhubungan dengan materi yang disampaikan.
2.      Bahan Ajar Pandang Dengar (Audio Visual)
Alat-alat audio visual adalah alat-alat “audible” artinya dapat didengar dan alat-alat yang “visible” artinya dapat dilihat. Alat-alat audio visual gunanya untuk membuat komunikasi menjadi lebih efektif. Diantara alat-alat audio visual itu termasuk video, film bersuara, televisi dll. Sebagai media pembelajaran dalam pendidikan dan pengajaran, media audio visual mempunyai sifat sebagai berikut :
a.    Kemampuan untuk meningkatkan persepsi.
b.    Kemampuan untuk meningkatkan pengertian.
c.    Kemampuan untuk meningkatkan transfer (pengalihan) belajar.
d.        Kemampuan untuk memberikan penguatan (reinforcement) atau pengetahuan hasil yang dicapai.
e.    Kemampuan untuk meningkatkan retensi (ingatan).
Karakteristik media audio visual adalah memiliki unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi dua jenis media yaitu media audio dan visual. Macam-macam media audio visual dibagi menjadi dua yaitu film suara dan video/VCD/DVD.
a.         Film suara
Secara singkat apa yang telah dilihat pada sebuah film, vidio, ataupun televisi hendaknya dapat memberikan hasil yang nyata kepada siswa. Film yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1)        Sesuai dengan tema pembelajaran.
2)        Dapat menarik minat siswa.
3)        Benar dan autentik.
4)        Up to date dalam setting, pakaian dan lingkungan.
5)        Sesuai dengan tigkat kematangan siswa.
6)        Perbendaharaan bahasa yang benar.
b.         Video
Media video merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.
Beberapa keuntungan yang di dapat jika bahan ajar disajikan dalam bentuk video/film, antara lain :
1)      Dengan video/film seseorang dapat belajar sendiri.
2)      Sebagai media pandang dengar video/film menyajikan situasi yang komunikatif dan dapat diulang-ulang.
3)      Dapat menampilkan sesuatu yang detail dari benda yang bergerak, kompleks, yang sulit dilihat dengan mata.
4)      Video dapat dipercepat maupun di perlambat, dapat di ulang pada bagian tertentu yang perlu lebih jelas, dan bahkan dapat diperbesar.
5)      Memungkinkan pula untuk membandingkan antara dua adegan berbeda diputar dalam waktu bersamaan.
6)      Video juga dapat digunakan sebagai tampilan nyata dari suatu adegan, mengangkat suatu situasi diskusi, dokumentasi, promosi suatu produk, interview, dan menampilkan satu percobaan yang berproses.[1]
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan audio visual untuk pembelajaran yaitu :
1)        Guru harus mempersiapkan unit pelajaran terlebih dahulu, kemudian baru memilih media audio-visual yang tepat untuk mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan.
2)        Guru juga harus mengetahui durasi media audio-visual misalnya dalam bentuk film ataupun video, dimana keduanya yang harus disesuaikan dengan jam pelajaran.
3)        Mempersiapkan kelas, yang meliputi persiapan siswa dengan memberikan penjelasan global tentang isi film, video atau televisi yang akan diputar dan persiapan peralatan yang akan digunakan demi kelancaran pembelajaran.
4)        Aktivitas lanjutan, setelah pemutaran film atau video selesai, sebaiknya guru melakukan refleksi dan tanya jawab dengan siswa untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi tersebut.
Beberapa Kelebihan atau kegunaan media audio visual pembelajaran yaitu :
1)        Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata, tertulis atau lisan belaka).
2)        Mengatasi perbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti :
a)      Objek yang terlalu besar digantikan dengan realitas, gambar, film bingkai, film atau video.
b)      Obyek yang kecil dibantu dengan proyektor micro, film bingkai, film atau gambar.
c)      Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan time line atau high speed photografi.
d)     Kejadian atau peristiwa yang terjadi masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film,video, film bingkai, foto maupun secara verbal.
e)      Konsep yang terlalu luas (gunung merapi, gempa bumi, iklim dll) dapat di visualkan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dll.
Pengajaran audio visual juga mempunyai beberapa kelemahan yaitu :
a.    Media audio visual tidak dapat digunakan dimana saja dan kapan saja, karena media audio visual cenderung tetap di tempat.
b.    Biaya pengadaannya relative mahal.
c.    Apabila guru tidak mampu berpartisipasi aktif maka siswa akan cenderung menikmati visualisasi dan suaranya saja.
3.      Bahan Ajar Multimedia Interaktif (Interactive Teaching Material)
Bahan Ajar Interaktif (interactive teaching material) merupakan kombinasi dari beberapa media baik audio, gerak, grafik, gambar, animasi dan video yang dalam proses pembelajaran dimanfaakan atau diperlakukan untuk mengendalikan suatu perintah dalam proses pembelajaran. Seperti CD-interaktif, film interaktif, tanya jawab/diskusi, selain itu dapat berupa bahan ajar interaktif diskusi lingkungan/pelajaran diluar kelas praktek dari sebuah materi tertentu.[2]
Cd-interaktif  adalah Program interaktif yg dibuat untuk menyampaikan informasi penting dimana user dapat menavigasikan program tersebut.[3] Contoh gambar dari CD-interaktif sebagai berikut:

 








Gambar 1.1 CD-interaktif
Contoh dari bahan ajar multimedia interaktif adalah model pembelajaran yang berbasis WEB (e-learning). Model pembelajaran berbasis webside dirancang dengan mengintegrasikan pembelajaran berbasis web dalam program pembelajaran konvensional tatap muka. Proses pembelajaran konvensional tatap muka dilakukan dengan pendekatan Student Centered Learning (SCL), yaitu kerja kelompok. Model ini menuntut partisipasi siswa yang tinggi, dan sekalipun teknologi web memungkinkan pembelajaran dilakukan secara virtual penuh, akan tetapi kesempatan tersebut tidak dipilih. Interaksi satu sama lain dibutuhkan untuk dapat berkomunikasi secara langsung dan tatap muka masih dibutuhkan.[4]
Jenis bahan ajar non-cetak yang lain diantaranya adalah OHP dan komputer. OHP (Overhead Projector) merupakan jenis perangkat keras yang sangat sederhana, terdiri atas sebuah kontak dengan bagian atasnya sebagai landasan yang luas untuk meletakkan transparansi.[5] Contoh gambar OHP sebagai berikut:



 










Gambar 1.2 OHP

BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa bahan ajar non-cetak adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang dituangkan dalam teknologi non-cetak.
Kelebihan bahan ajar non-cetak secara umum adalah dapat menampilkan kombinasi antara gambar dengan gerakan, dapat menggabungkan semua unsur media seperti teks, video, animasi, image, grafik, sound menjadi satu kesatuan penyajian, memanfaatkan keunggulan komputer (diigital media ataupun teknologi jaringan atau computer network, memanfaatkan teknologi multimedia, sehingga suasana pembelajaran menjadi menarik, tidak membosankan dan pada akhirnya memotivasi siswa untuk belajar mandiri, menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan dan dimana saja bila yang bersangkutan memerlukannya, dan memanfaatkan pertukaran data (Information sharing) yang secara interaktif dapat dilihat setiap saaat di komputer.
Kekurangan bahan ajar non-cetak secara umum adalah membutuhkan alat yang lengkap untuk menggunakannya, membutuhkan biaya yang relatif mahal untuk pengadaaan alat bahan ajar non-cetak, penggunanya harus mempunyai skill yang sesuai dengan bahan ajar yang digunakan, dan adanya virus yang akan membuat file hilang.
Macam-macam bahan ajar non-cetak diantaranya adalah bahan ajar dengar (audio), bahan ajar pandang dengar (audio visual), multimedia interaktif (interactive teaching material). Jenis-jenis audio diantaranya adalah pta audio (rol atau kaset), piringan audio, radio (rekaman siaran). Dan macam-macam media audio visual adalah film suara dan video/VCD/DVD. Sedangkan contoh dari bahan ajar multimedia interaktif adalah model pembelajaran yang berbasis WEB (e-learning).








B.       Saran
Untuk menanggulangi kekurangan dari bahan ajar non-cetak yaitu guru harus menyediakan fasilitas yang lengkap untuk menunjang bahan ajar non-cetak, guru harus mempunyai skill yang sesuai dengan bahan ajar yang digunakan. Skill tersebut bisa guru peroleh dari membaca buku mengenai bahan ajar non-cetak, belajar dari guru senior, atau kursus, guru juga harus memiliki anti virus di komputernya, menduplikasi file, dan mengupload di internet sebagai antisipasi apabila file yang memuat bahan ajar non-cetak hilang karena terkena virus, dan sekolah harus mengalokasikan dana untuk pembelian alat bahan ajar non-cetak.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2012. Pengembangan Pembelajaran Aktif dengan ICT. Yogyakarta: Scripta




Prastowo, Andi. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. Yogyakarta: DIVA Press


[1] http://downloadgratisarea.blogspot.com/2012/10/jenis-bahan-ajar.html. Diakses hari kamis. 10 April 2014. 10:12
[3] http://portal-tik.blogspot.com/2013/10/download-contoh-cd-interaktif-ips-smp.html.  Diakses hari kamis. 15 Mei 2014. 10:12
[4] Andi Prastowo. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. Yogyakarta: DIVA Press. hlm: 83
[5] Zainal Arifin. 2012. Pengembangan Pembelajaran Aktif dengan ICT. Yogyakarta: Scripta. hlm: 136